Tembus Latoma-Routa, Bupati Konawe Apresiasi 27 Peserta Ekspedisi

  • Share

LINTASSULTRA.COM | KONAWE – Ekspedisi Menembus Batas Latoma–Routa yang berlangsung selama 14 hari akhirnya berhasil menyelesaikan perjalanan dengan selamat. Sebanyak 27 orang yang tergabung dalam tim ekspedisi tersebut berhasil menembus kawasan pedalaman yang selama ini sulit dijangkau.

Ketua Tim Ekspedisi Menembus Batas Latoma–Routa, Syamsul Ibrahim, mengungkapkan, perjalanan yang berlangsung selama 13 malam 14 hari itu penuh perjuangan dan tantangan. Selain menghadapi kondisi geografis yang berat, tim juga menemukan berbagai fakta dan peninggalan sejarah yang memiliki nilai penting bagi peradaban masyarakat Konawe.

Menurut Syamsul, selama perjalanan tim menemukan sejumlah jejak peradaban masa lampau, mulai dari jalan peninggalan zaman Belanda, bekas permukiman warga, hingga makam yang berada di kawasan Distrik Wiwirano.

Ketgam: Bupati Konawe saat menyambut ekspedisi Routa-Latoma, Sabtu (7/11/2026).

Temuan tersebut menjadi petunjuk penting mengenai sejarah kehidupan masyarakat di wilayah tersebut pada masa lalu.

“Banyak peradaban yang bisa kita ungkap nantinya. Ada jalan zaman Belanda, pemukiman warga, dan makam Distrik Wiwirano yang merupakan bagian dari sejarah peradaban di Kabupaten Konawe,” ungkap Syamsul, Sabtu (7/11/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan tim, makam yang ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke-17 atau ke-18. Hal itu terlihat dari kondisi dan karakteristik kompleks pemakaman yang diperkirakan melibatkan banyak warga pada masa itu.

Selain peninggalan sejarah, tim juga melakukan pengamatan terhadap kondisi geografis dan potensi pembukaan akses jalan menuju Kecamatan Routa.

Ketgam: tim ekspedisi saat menemukan salah satu makam tua di Hiuka.

Syamsul menyebutkan, dari Desa Anggola terdapat jalur sekitar 40 kilometer yang telah dibuka oleh pemilik izin usaha pertambangan (IUP) untuk kegiatan eksplorasi. Sebagian jalur tersebut diketahui masuk dalam kawasan hutan produksi terbatas (HPT).

Dalam perjalanan, tim juga melewati kawasan padang ilalang yang diapit pegunungan batu dengan kontur medan yang cukup menantang. Sementara kawasan Danau Hiuka yang mereka temui dalam ekspedisi tersebut diketahui sedang dalam kondisi kering.

Berdasarkan hasil penelusuran, Syamsul memperkirakan pembukaan akses jalan dari Latoma menuju Routa membutuhkan jalur sekitar 60 kilometer.

Dengan demikian, Pemerintah Kabupaten Konawe dapat mempersiapkan tim konsultan dari sektor kehutanan untuk melakukan kajian lebih lanjut terkait kemungkinan pembukaan akses tersebut.

Menurutnya, penelusuran jalur juga dapat dilakukan melalui sejumlah titik alternatif, di antaranya Uete, Wiau, Kolaka Timur, dan Kolaka Utara.

Sementara itu, Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh anggota tim yang berhasil menyelesaikan ekspedisi dan kembali dengan selamat.

Ketgam: Danau Hiuka berpotensi menjadi Destinasi wisata di Kabupaten Konawe.

Ia mengaku sempat merasa panik setelah menerima informasi bahwa tim ekspedisi sempat kehilangan kontak selama perjalanan.

“Kami sebenarnya panik. Kami sangat berharap semua selamat karena saya mendengar kabar sempat kehilangan kontak. Saya sangat bersyukur seluruh anggota tim bisa kembali dengan selamat,” ujar Yusran.

Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada 27 anggota tim yang telah berjuang menembus jalur Latoma–Routa selama 14 hari.

Menurutnya, ekspedisi tersebut bukan sekadar upaya mencari dan membuka jalur penghubung menuju Kecamatan Routa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menggali sejarah dan kebudayaan Kabupaten Konawe.

Ia meminta seluruh hasil ekspedisi didokumentasikan secara terperinci, mulai dari kondisi kontur wilayah, jarak tempuh, kondisi geografis, hingga berbagai peninggalan sejarah yang ditemukan sepanjang perjalanan.

“Semua harus ditulis, baik itu kontur, jarak, maupun peninggalan sejarah. Jangan hanya mencari jalur jalan, tetapi harus menjadi catatan kebudayaan. Data ini sangat penting karena menyangkut peradaban kita di Konawe,” tegasnya.

Yusran menambahkan, pemerintah daerah akan melibatkan instansi terkait, khususnya Dinas Kehutanan dan Dinas Pekerjaan Umum (PU), untuk menindaklanjuti hasil penelusuran jalur yang telah dilakukan tim ekspedisi.

Selain kajian pembukaan akses jalan, pemerintah juga akan memperhatikan pendataan situs sejarah dan budaya, termasuk makam serta sisa-sisa peradaban masa lampau yang ditemukan di kawasan tersebut.

Ia berharap hasil ekspedisi ini menjadi dasar bagi perencanaan kegiatan lanjutan sekaligus membuka peluang pengembangan aksesibilitas wilayah pedalaman Konawe.

Yusran juga memastikan pemerintah daerah akan mendukung pelaksanaan ekspedisi berikutnya yang direncanakan berlangsung pada tahun 2027.

“Tahun depan kita akan persiapkan ekspedisi berikutnya. Kami akan melibatkan teman-teman untuk mengambil peran. Terkait pendanaan, pemerintah akan mendukung,” pungkasnya.

Usai menerima tim ekspedisi batas Latoma-Routa, selanjutnya penerimaan penghargaan kepada 27 peserta ekspedisi yang diserahkan langsung oleh Bupati Konawe.(Red/Inal).

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *