Sampah Konawe Capai 23,8 Ton Sehari, Yusran Dorong Penanganan Terpadu

  • Share

LINTASSULTRA.COM | KONAWE – Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., melakukan inspeksi langsung terhadap fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Kelurahan Mataiwoi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (19/10/2026).

Langkah ini dilakukan untuk mengevaluasi pengelolaan persampahan sekaligus mencari solusi dalam menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Dalam agenda tersebut, Yusran didampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Konawe, Syahrul, S.KM., M.M. Sekretaris Daerah Konawe, Ferdinand Sapan, turut hadir bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).

Ketgam: Yusran Akbar, S.T., melakukan inspeksi langsung terhadap fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Kelurahan Mataiwoi.

Perwakilan OPD yang mengikuti peninjauan itu berasal dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), serta Dinas Komunikasi dan Informatika. Sejumlah pejabat dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di lingkungan DLH Konawe juga turut mendampingi kegiatan tersebut.

Kehadiran berbagai instansi itu menunjukkan bahwa pemerintah daerah ingin membangun pola penanganan sampah secara terpadu. Upaya tersebut dinilai membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan kelurahan, petugas kebersihan, hingga masyarakat.

Saat memberikan arahan, Yusran menekankan besarnya jumlah sampah yang setiap hari harus dikelola di Kabupaten Konawe. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah konkret untuk memperbaiki proses pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan sampah sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Mengacu pada data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) per 8 Agustus 2026 yang disampaikan dalam kegiatan itu, volume sampah yang masuk ke TPA Mataiwoi tercatat rata-rata mencapai 23,8 ton setiap hari.

Timbulan sampah tersebut mencakup beragam material, di antaranya sampah organik, plastik, logam, kaca, bahan anorganik lainnya, serta residu yang membutuhkan penanganan khusus sesuai jenis dan karakteristiknya.

Besarnya timbulan sampah harian tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan seluruh tahapan pengelolaan berlangsung efektif. Karena itu, penanganan persampahan tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan sampah menuju TPA, tetapi perlu disertai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Yusran menegaskan, persoalan persampahan harus menjadi perhatian bersama dan tidak boleh hanya dibebankan kepada DLH.

Menurutnya, keterlibatan lintas OPD sangat diperlukan untuk menumbuhkan budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, baik di lingkungan kantor pemerintahan, fasilitas pelayanan publik, kawasan permukiman, maupun pusat kegiatan ekonomi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Konawe juga didorong untuk mengubah pendekatan pengelolaan sampah. Jika sebelumnya penanganan lebih banyak berfokus pada pengumpulan dan pembuangan, ke depan pemilahan, pengolahan, serta pemanfaatan kembali material yang masih bernilai guna perlu menjadi prioritas.

Dalam pemaparan tersebut, muncul pula gambaran mengenai potensi pengurangan beban TPA melalui pemilahan dan pemanfaatan sampah yang masih dapat diolah.

Apabila diasumsikan 70 persen dari total sampah harian dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali, maka dari volume 23,8 ton per hari terdapat sekitar 16,66 ton sampah yang berpotensi dialihkan dari pembuangan akhir.

Sementara itu, 30 persen sisanya, yakni sekitar 7,14 ton per hari, diperkirakan berupa residu yang tetap membutuhkan penanganan lanjutan.

Simulasi tersebut memperlihatkan peluang besar untuk mengurangi beban TPA apabila sistem pemilahan dan pengolahan sampah dapat diterapkan secara maksimal.

Meski demikian, angka 70 persen sampah yang berpotensi dimanfaatkan kembali dan 30 persen residu tersebut masih sebatas asumsi perhitungan. Angka itu belum dapat dijadikan gambaran pasti mengenai komposisi sampah aktual di Konawe karena belum didasarkan pada hasil pengukuran lapangan yang terverifikasi.

Oleh sebab itu, diperlukan pendataan dan pemeriksaan komposisi sampah secara langsung guna mengetahui jumlah sampah organik, plastik, logam, kaca, serta jenis material lain yang memungkinkan untuk diolah atau didaur ulang.

Sampah organik dapat diarahkan ke metode pengolahan yang sesuai, sementara material anorganik yang masih mempunyai nilai ekonomis dapat dipilah untuk dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Melalui peninjauan tersebut, Pemerintah Kabupaten Konawe diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarlembaga sekaligus menyusun langkah pengelolaan sampah yang lebih terukur. Dengan keterlibatan seluruh unsur dan dukungan masyarakat, pengurangan timbulan sampah diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga beban TPA Mataiwoi berangsur berkurang.(Red/Admin).

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *