LINTASSULTRA.COM | KONAWE – Di tengah panasnya polemik investasi PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di Kecamatan Routa Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara terkait tuntutan pendirian Pabrik Smelter RKEF oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Sebuah konsorsium baru muncul membawa angin segar sekaligus sengatan. Ratusan orang yang mengaku sebagai masyarakat pribumi lingkar tambang, yang lahir, hidup, dan terdampak langsung aktivitas tambang itu memenuhi halaman Kantor DPRD Konawe, dan Kantor Bupati Konawe, pada Selasa (07/4/2026).
Mereka membawa spanduk dan yel-yel yang berbanding terbalik dengan isu yang beredar sebelumnya, tak hanya itu gelombang arus dukungan terhadap keberadaan Investasi di Konawe ini juga datang dari Ratusan Massa Himpunan Aktivis Muda Konawe (HAM) yang dikenal getol menyuarakan aspirasi Masyarakat di Daerah ini.
Perwakilan Konsorsium Masyarakat Pribumi Routa Konawe Mepokoaso (KMPRKM) dengan lantang menyatakan bahwa kelompok Aliansi Masyarakat Routa bahkan kini membuat aliansi baru diberi nama “Save Routa” yang selama ini vokal mengkritisi SCM bukanlah perwakilan dari masyarakat pribumi Routa.
Massa KMPRKM menyatakan mendukung penuh keberadaan PT SCM karena dinilai telah membawa kemajuan signifikan, mulai dari infrastruktur jalan, bangunan umum, pengembangan SDM, hingga bantuan usaha bagi masyarakat lingkar tambang.
“Kami menyatakan sikap tegas. Oknum yang mengatasnamakan Save Routa itu bukan bagian dari kami. Kami masyarakat yang hidup berdampingan dengan investasi ini justru merasakan manfaatnya,” ujar Randi Liambo selaku Koordinator Aksi ini.
“Hari ini kami hadir, kami putra asli dari leluhur kami di kecamatan routa tidak ada mengatas namakan oknum oknum tertentu tidak ada mengatas namakan politik ataupun kaum kaum tertentu, kami melegitimasi diri kami sebagai penduduk asli pribumi asli dan kemudian ingin perubahan perubahan tidak ada konflik konflik sosial ataupun horizontal di daerah kami,” Ujarnya.
Pendemo ini menyatakan jika hal ini dibiarkan berlarut larut mereka khawatir atas dampak konflik dimasyarakat dapat terjadi, “kami tidak ingin di Konawe ini akan mengalami suatu huru hara dikecamatan routa kami tidak mau pak, kami tidak mau konflik konflik horizontal ini berlanjut merugikan investasi yang sehat, kami ingin mendukung Perusahaan kami tegaskan kami ingin mendukung Perusahaan, kami datang ini menyampaikan kebenaran fakta sesusngguhnya bahwa keberadaan PT. SCM di tanah Routa memberikan dampak positif dari sektor ekonomi, Pendidikan dan sosial Masyarakat,” Katanya.
Menurut massa, pembangunan smelter tidak boleh dijadikan “Dalih” yang kemudian merongrong keberadaan invetasi didaerah itu sementara ada regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat terkait pembatasan yang smelter, “Masalah smeter itu hanya menjadi isyu untuk kepentingan kepentingan semata, masa itu smelter dikaitkan dengan pembebasan lahan, Ganti rugi tanaman kopi dan lain lainnya itukan tidak masuk akal, perlu kita telusuri motifnya ada apa, semuanya sudah sejak lama selesai Perusahaan dan juga pemda sudah sepakat bahwa tidak ada aturan yang kemudian bisa menabrak aturan dari PP 28 itu terkait moratorium Pembangunan smelter, tidak ada.” Orasinya.
Informasi yang dihimpun, jika saat ini laporan dugaan tindak pidana terkait Indikasi SKT Fiktif yang berada diareal Kawasan hutan Tengah bergulir di Aparat Penegak Hukum (APH), yang indikasinya dimana laporan atas dugaan SKT Fiktif diareal Kawasan Hutan di Kecamatan Routa yang diduga terkait dengan isyu isyu pembebasan lahan.
“Tentu kami mendukung untuk dibangun smelter atau pabrik, kami mendukung tapi kami tidak mendukung kemudian ada oknum oknum yang mengatas namakan Masyarakat Routa yang mencoba memecah rumpun keluarga kami disana, olehnya itu kami meminta kehadiran Pemerintah Kabupaten, DPRD dan semua stakeholder untuk mengatensi gerakan kami hari ini,” Pungkasnya.
Dengan Massa yang berbeda, senada dengan hal tersebut, Himpunan Aktivis Muda Konawe (HAM) Konawe memberikan dukungan terhadap keberadaan Investasi di Daerah ini Agus Salim Misman selaku Jendaral Lapangan dalam orasinya mendesak agar Bupati Konawe dan Ketua DPRD Konawe untuk selalu mendukung Investasi yang berada di Kabupaten Konawe khususnya di wilayah Kecamatan Routa salah satunya PT. SCM, “Investasi yang masuk ini tentu memberikan dampak positif bagi daerah ini, bukan hanya di Routa saja tetapi masyarakat Konawe dari sumber dana Bagi Hasil (DBH) yang diterima oleh daerah” tegas Agus Salim.
“kami Mendesak Bupati Konawe dan Ketua DPRD Konawe untuk mengambil sikap tegas terhadap oknum yang memiliki tujuan tertentu yang nantinya dapat berpotensi memprovokasi Masyarakat sehingga menimbulkan konflik sehingga dapat mengganggu jalannya investasi yang berada di wilayah routa khusunya Perusahaan pertambangan PT. SCM” Pungkasnya.
Menemui Massa Aksi, Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim menegaskan hadirnya Investasi di Kabupaten Konawe khususnya Kecamatan Routa telah memberikan dampak positif bagi daerah maupun Masyarakat.
“Alhmadulillah Routa dari hari ke hari mengalami kemajuan, jalanan di Routa, sudah bisa kita lewati hingga akses sampai di daerah terujung desa Parudongka, artinya apa itu semua karena kita pemerintah daerah dan khususnya keluarga besar keluarga routa ikhlas membuka diri untuk masuknya investasi, mulai dari masuknya investasi sawit, kemudian investasi sebelum sawit terus sekarang ada tambang dan saya yakin disana nantinya masih banyak wilayah yang akan menjadi sumber investasi lainnya, dan ini akan membantu mempercepat proses peningkatan kesejahteraan masyarakat di kecamatan routa” Katanya.
“Hari ini akses jalan sudah bisa sampai di Desa Parudongka (Desa terujung Kecamatan Routa) itu karena dampak adanya investasi yang masuk, terus membangun dan memelihara jalan yang ada diwilayah tersebut itu salah satu poin, bahkan saya juga mendengar dari sebagian keluarga besar disana, bahwa sudah ada pekerjaan pengaspalan diwilayah desa Lalomerui, maupun kegiatan lainnya, itu juga tambahan poinnya” Ujar Wabup Konawe yang kerap disapa Om Syam ini.
H. Syamsul Ibrahim Kembali menyebut, Program Beasiswa dari hadirnya Investasi sudah mulai dirasakan mafaatnya oleh Masyarakat didaerah ini, “ada juga informasi saya dengar bahwa sudah ada anak anak kita yang dibiayai melalui beasiswa oleh Perusahaan tentunya ini adalah sebuah harapan masa depan bagi kita” katanya.
“Beberapa waktu lalu saya kunjungan saya ke Kecamatan Routa, sudah menyampaikan kepada keluarga besar disana, masyarakat routa jika routa ini punya masa depan yang baik, saya sangat sedih, prihatin kepada kita semua jika peluang emas yang ada diwilayah itu sebagai akibat dari masuknya investasi entah siapa perusahaannya terus itu kita sia siakan maka sama saja dengan kita membuang emas dilautan. Bagaimana masa depan anak cucu kita dalam 30 atau 50 tahun kedepan” Tutur Wabup Konawe ini.
Menurut Wakil Bupati Konawe apa yang dibicarakan di Konawe ini semua penting, “itulah saking pentingnya semua, dia berubah menjadi kepentingan,” katanya.
Dikatakannya, sikap pemerintah daerah terkait desakan oleh sekelompok oknum yang mendesak untuk didirikan Pembangunan Pabrik oileh PT. SCM itu mesti mengacu sesuai dengan regulasi yang ada, “diatur oleh regulasi kita diatur oleh undang undang ada pemerintah pusat, saya ingin luruskan biar kita disini bersama pak Kapolres ingin A kalau undang undangnya di Jakarta bilang B tidak akan kejadian,” tegasnya.
“Regulasinya yang saya baca bahwa ada regulasi pemerintah yang ditanda tangani oleh bapak Presiden Prabiwo, untuk sementara terjadi moratorium Pembangunan smelter, artinya apa ini Keputusan pusat,” katanya lagi.
Menurut Wakil Bupati jika itu dipaksakan pembagunan smelter berarti ada regulasi ayng dilanggar dan siap siap berurusan dengan hukum, “kalau kita coba bangun sendiri kita pasti berurusan dengan hukum, karena ini perintah negara yang sudah difikirkan dan dirapatkan, jadi penjelasanya (Regulasinya.Red) bahwa saking banyaknya pabrik sementara berjalan, banyak yang minta izin dengan stok Cadangan nikel kita hari ini jika itu diizinkan semua pasti dalam lima atau sepuluh tahun kedepan sudah habis nikel kita kalau (Pendirian Pabrik) diizinkan semua,” jelasnya.
“Bagi keluarga besar Routa tolong dijaga persaudaraan, aspirasi silahkan tidak boleh ada yang sifatnya anarkis karena ketika kita merusak ketika kita anarkis maka itu sama dengan kita suruh APH untuk memproses kita, bukan maunya Kapolres tetapi atas perintah undang undang dan itu terjadi atas permintaan kita karena kita sudah merusak sesuatu yang menjadi sebab musabab kita merusak sesuatu yang bisa membuat kita ditersangkakan oleh aparat jadi,” tegas Wabup Konawe.
Wakil Bupati Konawe Kembali mengegaskan untuk menjaga situasi kondusif, “saya mengingatkan masyarakat dan keluarga besar yang hadir hari ini jangan terprovokasi tidak bolah ada gerakan anarkis, yang namanya berdiskusi silahkan, yang namanya membawa aspirasi silahkan tetapi secara pribadi maupun mewakili pemerintah saya mengingatkan untuk menjaga diri agar situasi tetap kondusif.” Ujarnya.
“Dari berita berita yang ada bahwa ini wilayah routa sudah banyak izin izin IUP disekitar wilayah itu, kita berharap ini juga bisa masuk berinvestasi dan saya yakin makin banyak investor yang masuk dirouta dan tentunya mengikuti prosedur yang seusai dengan aturan dan regulasi yang ada saya yakin akan bermanfaat untuk Indonesia, bermanfaat untuk pemerintah Provinsi dan Pemda Konawe, lebih lebih lagi buat keluraga besar di kecamatan routa, saya kira itu poinnya mari kita jaga bersama Routa ini.” Pungkasnya.
Momen paling emosional terjadi saat Ketua DPRD Konawe, I Made Asmaya, berdiri di hadapan massa. Dengan didampingi anggota DPRD lainnya seperti Kristian Tandabioh, Fakhrudin, dan Abd Rahim Lahusi, Made Asmaya menyampaikan apresiasi atas aksi damai yang berlangsung tertib.
“Saya ucapkan terima kasih banyak. Aspirasi ini disampaikan tidak dengan anarkis. Dengan begitu, kami sebagai wakil rakyat bisa berpikir dingin dan mencari solusi terbaik,” ujar Made Asmaya di hadapan massa yang dikawal ketat aparat.
Made Asmaya menegaskan bahwa DPRD Konawe mendukung penuh investasi SCM. Ia bahkan mengakui bahwa dirinya baru saja meninggalkan rapat panitia khusus (pansus) demi menemui massa sebagai bentuk empati dan bukti nyata kepedulian wakil rakyat.
“Kenapa kami dukung? Bukan cuma pemerintah, tapi karena masyarakatnya sendiri sudah mendukung penuh. Apa daya kami sebagai pemerintah? Kami ada di sini karena Anda. Saya akan kawal ini sampai tuntas,” tegasnya.
Made Asmaya juga memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak terpancing provokasi yang bisa memicu benturan horizontal. Ia memastikan bahwa Pemerintah Kabupaten Konawe sangat memperhatikan Kecamatan Routa, terbukti dengan adanya alokasi APBD untuk beasiswa dan infrastruktur yang dikoordinasikan dengan PT SCM.
“Jangan ragukan pemerintah daerah. Saya orang Konawe, Routa adalah bagian dari kita. Saya tidak mau melihat dari jauh. Dalam waktu dekat, saya bersama teman-teman DPRD akan turun langsung ke Kecamatan Routa untuk melihat fakta sebenarnya dan memastikan investasi berjalan sesuai harapan masyarakat,” tutup Made Asmaya disambut sorak dukungan massa.
Dalam aksinya, KMPRKM menyampaikan lima poin krusial yang diserahkan secara simbolis kepada Wakil Bupati Konawe H. Syamsul Ibrahim dan Ketua DPRD Konawe, I Made Asmaya:
Mendesak Bupati Konawe mengeluarkan tanggapan resmi terkait pembangunan smelter yang sesuai regulasi PP 28 Tahun 2026 tentang pembatasan smelter nikel berbasis RKEF.
Mendesak Pemerintah Daerah (Konawe & Sultra), Gubernur, DPRD, Kapolres, ESDM, dan Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH untuk memberikan klarifikasi publik.
Mendesak semua pihak untuk memberikan penjelasan yang merujuk pada surat Sekretariat Jenderal DPD RI bernomor B/AL.01.03/593/DPDRII/IV/2026 yang ditujukan kepada Koalisi Save Routa.
Menantang para penolak investasi untuk langsung menghadap Presiden RI jika ingin menghentikan aktivitas investasi di Routa, dan memperingatkan agar polemik tidak diputar di daerah karena dikhawatirkan memicu konflik horizontal antar sesama warga lingkar tambang.(Red/Admin).













