Robek Hidung Anaknya Saat Dirawat di BLUD RS Konawe, Ini Pengakuan Orang Tua Korban

0
6786

LINTASSULTRA.COM | KONAWE – Polemik yang terjadi di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit (BLUD RS) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara terkait robeknya hidung bayi yang berumur 36 hari mendapat banyak sorotan dari pihak masyarakat.

Pasalnya bayi yang bernama Muh. zeydan alfarisky sebelumnya di diagnosa berat oleh pihak RS dan harus mendapat butuh alat bantu nafas. Namun saat penggunaan alat bantu nafas yaitu Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) hidung bayi tersebut awalnya mendapat luka lecet dan setelah dua kali pemasangan, tulang lunak diantara kedua lubang hidung atau sering disebut cuping hidung bayi tersebut robek.

Ertiawati didampingi Muhammad Jefry yang merupakan orang tua Muh. Zeydan Alfrisky mengatakan saat anaknya masuk kerumah sakit, pihak rumah sakit mendiagnosa anaknya dengan diagnosa infeksi paru sehingga membutuhkan alat bantu pernafasan.

Dikatakannya pula, bahwa pemasangan selang oksigen tersebut dilakukan oleh perawat yang piket dan dipandu oleh dokter yang berinisial RF melalui video.

“Yang ada perawat, lalu mereka periksa mii pernafasannya ini anak lewat video yang kemungkinan dikirimkan dari dokternya,” Kata Ertiawati saat ditemui awak media di kediamannya pada, Kamis (10/6/2021).

Lanjut Ertiawati, saat pemasangan alat bantu, pihak BLUD RS Konawe hanya menjelaskan jika anaknya harus menggunakan alat bantu pernafasan karena nafas bayi tersebut sangat cepat namun pihak RS tidak menjelaskan kepada mereka mengenai efek samping atas pemasangan Alat bantu pernafasan tersebut.

Ia juga menuturkan luka lecet awalnya timbul sekitar tiga hari setelah pemasangan alat bantu pernafasan sehingga menimbulkan pertanyaan.

“Kami bertanya kepada perawat setelah melihat luka lecet di hidung bayi kami, namun pihak RS mengatakan itu hal biasa saat pemasangan alat bantu pernafasan,” kata ibu dari dua anak tersebut.

Mengenai tawaran pihak RS yang menawarkan agar bayi tersebut di rawat di RS Hermina yang terletak di Kendari karena RS tersebut mempunyai alat Ventilator yang dapat digunakan bayi tersebut karena BLUD RS Konawe hanya dapat menggunakan CPAP yang resikonya dapat membuat hidung bayi tersebut lecet, Jefry mengatakan setelah menerima rekomendasi dari pihak BLUD RS Konawe ia telah mengecek RS Hermina, namun RS Hermina sama sekali tidak mempunyai Ventilator.

“Saat pihak BLUD RS Konawe menawarkan agar anak kami dibawah ke RS Hermina, Kami sangat setuju karena menurut pengakuan pihak BLUD bahwa di RS Hermina mempunyai Ventilator, tapi saat saya suruh tanteku untuk mengecek di RS Hermina, di RS tersebut tidak memiliki Ventilator,” Kata Jefry sambil menunjukan kepada awak media rekaman dan foto keluarganya yang mengecek di RS tersebut.

Jefri sangat menyayangkan atas tindakan yang telah dilakukan pihak BLUD RS Konawe sehingga membuat anaknya tersebut cacat.

Jefri juga mengungkapkan atas insiden tersebut dia tidak pernah dimintai surat pernyataan mengenai pemasangan alat bantu pernafasan dan tidak pernah pula dijelaskan jika alat tersebut mempunyai resiko lecet bahkan robeknya cuping hidung anaknya tersebut.

“Saya tidak pernah bertanda tangan terkait pemasangan alat bantu pernafasan kepada anak kami terlebih lagi pemberitahuan mengenai resikonya, nanti ada lecet baru kami dijelaskan,” pungkasnya.

Perlu diketahui, pihak BLUD RS Konawe sebelumnya telah memberikan klarifikasi mengenai robeknya cuping hidung bayi umur 36 hari tersebut.

Dihadapan Awak media, dr. Nila yang merupakan Humas BLUD RS Konawe mengatakan, tidak ada kesalahan prosedur dalam penanganan bayi yang disebutkan, dan semua tindakan yang dilakukan dokter dan paramedis sudah melalui persetujuan kerabat pasien.

“Sudah ada di rekam medis persetujuan semua,” kata dr. Nila ditemui awak media.

Diterangkan, persoalan ini telah dilakukan mediasi antar orang tua pasien, dokter yang merawat bayi dan kepala ruangan. Dalam pertemuan ini semua pihak sepakat untuk dilakukan bedah plastik untuk menormalkan hidung pasien bayi.

“Jadi kami tawarkan solusi, kami akan fasilitasi ke bedah plastik untuk merekonstruksi kembali hidung pasien bayi,” ucap dr. Nila.

Adapun kronologisnya, dr. Nila menuturkan pada tanggal 28 Mei 2021 pasien bayi masuk ke rumah sakit. Pasien merupakan rujukan bidan yang mengalami demam tinggi, sesak nafas, dan kejang.

Saat diperiksa di Unit Gawat Darurat (UGD) pasien bayi sudah didiagnosa berat. Lalu diberikan penangan pertama yaitu dipasang selang oksigen menggunakan selang biasa. Ternyata kondisi pasien tidak membaik karena oksigen masih rendah jadi masih sesak berat.

Keluarga pasien lalu diedukasi kalau pasien bayi butuh alat bantu napas, karena selang biasa tidak membantu. Jadi dijelaskan harus pakai alat bantu napas berupa CPAP.

Penggunaan CPAP sendiri untuk menghindari kondisi buruk pasien bayi. Kerugiannya anak ini tekannya tinggi karena mensuplai oksigen ke paru-paru dan otak.

Disampaikan ke ibu pasien bayi bahwa efek dari penggunaan CPAP ini mulai dari ada gangguan retraksi di paru-paru dan minimal luka di hidung.

“Dan saat di ruangan, dokter sudah jelaskan juga bahwa kondisi terburuknya bisa erosi hingga terlepas cuping hidung. Ibu pasien sudah diedukai dan setuju. Dan ada bukti tanda tangan tertuang,” tutur dr. Nila.

Tanggal 29 Mei 2021 karena pasien bayi masih gelisah, ibu bayi minta alat bantu dilepas, maka dilepaslah. Tapi setelah lepas anak kembali biru, kemudian diedukasi lagi kemudian dipasang lagi.

Tanggal 30 Mei 2021 karena kondisi bayi belum membaik, disaranakan untuk dipasangi alat bantu nafas ventilator. Namun dikonfirmasi ke pihak RS Bahteramas alatnya sedang rusak.

Ada ventilator milik RS Hermina Kendari namun rumah sakit ini milik swasta dan belum bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jamanis Sosial (BPJS) jadi akan ada biaya yang timbul, tapi keluarga keberatan.

“Kami dari tim dokter dan paramedis menawarkan solusi, bagaimana kalau tetap dirawat di sini tapi tetap kami cuma bisa gunakan CPAP. Keluarga setujui,” kata dr. Nila.

Setelah membaik, tanggal 2 Juni 2021 alat CPAP itu dilepas diganti dengan selang biasa. Diakui dr. Nila setalah pelepasan CPAP itu memang hidung pasien sudah mulai luka.

Pada tanggal 7 Juni 2021 pasien sudah diperbolehkan pulang. Namun disarankan untuk tetap kontrol minimal seminggu setelah diizinkan pulang. Termaksud untuk penyembuhan luka hidung pasien bayi.

“Kami sampaikan, kalau lukanya sudah kering dan kondisi pasien sudah stabil, kita akan memfasilitasi untuk membuat rujukan ke bedah plastik dan keluarga sepakat,” ujarnya.

Untuk proses bedah plastik hidung pasien, dilakukan sesuai dengan kondisi pasien. Menurut dr. Nila jika pihak keluarga mau mengikuti saran dokter agar penyembuhan luka pasien bayi lebih cepat, maka proses bedah juga bisa dilakukan secepat mungkin.

Di akhir dr. Nila menyatakan, pihak rumah sakit akan tetap memberikan pelayanan dan pendampingan hingga pasien kembali normal, dan memfasilitasi kebutuhan administrasi seperti BPJS sehingga tidak ada biaya yang harus ditimbulkan.

“Bahkan Direktur (BLUD RS Konawe) menyatakan akan membantu keluarga pasien sekalipun tidak dicover BPJS.” pungkas dr. Nila. (Red/Inal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here