Diduga Mutu Beton Dan Material Kontruksi Jembatan Rahabangga Tidak Penuhi Standar SNI

0
373

LINTASSULTRA.COM | KONAWE – Proyek pembangunan jembatan Rahabangga di Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus mendapat sorotan, selain penggunaan material yang diduga tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), kini muncul lagi dugaan tidak masuk standarnya mutu beton konstruksi bangunan atau Abutmen (pangkal jembatan) dan pier (pilar) yang saat ini telah selesai dikerjakan, dengan menggunakan hammer test (alat pemeriksa mutu beton).

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari beberapa sumber, nilai bacaan uji mutu beton dengan menggunakan hammer test nilainya tidak memenuhi kualifikasi untuk konstruksi jembatan kelas I dengan mutu beton K 500, yakni di bawa angka bacaan K 450 atau dibawah 80 persen.

Jembatan Rahabangga sendiri merupakan jembatan kelas I dengan mutu beton K 500, yang seharusnya nilai bacaan berdasarkan hammet test berada di angka K 450 atau 80 persen dari mutu beton yang dilakukan pengujian.

Tidak hanya itu, berdasarkan fakfa lapangan ditemukan adanya keganjalan dalam progres mix (proses pencampuran antara pasir dan material lain), dimana dilakukan pada malam hari, dugaanya proses mix diduga sengaja dilakukan pada malam hari agar material yang digunakan tidak terlihat karena diduga berasal dari lokasi yang bukan rujukan berdasarkan job desain proyek tersebut.

Akibatnya pada saat proses pengeringan, terdapat retakan pada bagian dinding konstruksi abutmen, namun hal itu segerah disadari oleh joing kontraktor yang ditunjuk oleh PT Brantas Abipraya dan segerah menutup retakan tersebut (ditambal). Hal diduga diakibatkan oleh proses pencampuran material yang tidak sesuai.

Salah seorang pekerja yang ditemui awak media menyebutkan jika material pasir yang digunakan untuk konstruksi jembatan diambil dari dua lokasi yang berbeda, yakni blok Rawua dan Blok Uepai, material itu selanjutnya disatukan sebelum dicampur dengan bahan lain pada proses mix.

“Setau saya pasirnya ada yang dari Uepai dan Rawua Pak. Tidak ada material dari Moramo Pak,” Kata salah seorang pria yang enggan menyebutkan namanya saat ditemui di lokasi penyimpanan barang PT Brantas Abipraya, yang juga tempat mix dilakukan beberapa waktu lalu.

Dilain pihak Dekan Fakultas Teknik Sipil Universitas Lakidende (Unilaki), Asrul menyebutkan dalam proses pengerjaan konstruksi wajib dilakukan hammer test pada item bangunan untuk menguji mutu beton, kuat tekanan beton.

Jika nilai bacaan yang dihasillan tidak sesuai dengan spesifikasi mutu beton, maka semua proses harus dievaluasi berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) serta Rencana Kerja dan Syarat (RKS), tujuannya untuk melihat metode penanganan terhadap persoalan yang dihadapi.

“Makanya di awal konstruksi harus diantisipasi dalam pemilihan material untuk meminimalisir resiko-resiko, sebab semua ada SOPnya, kalau salah menggunakan material maka hasilnya juga akan salah,” Kata Asrul.

Pria yang baru saja menyelesaikan studi gelar insinyur di Universitas Hasanuddin Makassar ini menyebutkan, dalam proses konstruksi ada beberapa faktor yang bisa saja mempengaruhi nilai mutu beton, seperti penggunaan material yang tidak sesuai, dan proses pengerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagaimana yang terterah pada job desain proyek tersebut.

Kedua hal ini kata Asrul, tidak dapat dipasahkan. Meskipun materila yang digunakan sudah sesuai standar tetapi proses pengerjaan tidak sesuai maka hasilnya tidak akan baik, begitu juga sebaliknya. Walau proses pengerjaan sudah sesuai SOP tapi material yang digunakan tidak sesuai standar maka hasilnya tetap akan sama. “Meskipun hasilnya kuat tapi tetap saja itu tidak sesuai standar, dan itu bisa berakibat pada kualitas konstruksi,” Ujarnya

Terpisah, Giwel pemilik tambang pasir di Desa Rawua, yang merupakan tempat pengambilan material pasir seperti yang disebutkan oleh Direksi PU BPJN Sultra beberapa waktu lalu mengaku tidak mengetahui jika PT Brantas Abipraya juga menggambil material pasir di lokasi lain untuk konstruksi abutmen dan pier.

“Yang saya tau memang mereka mengambil pasir di Uepai untuk talutnya, tapi kalau konstruksi utamanya saya tidak tau. Mereka tidak ambil ditempat kami karena katanya harga kami mahal sehingga mereka ambilnya di Uepai,” Ujar Giwel via selulernya.

Sayangnya, ia tidak mengetahui secara pasti berapa banyak pasir yang telah diambil untuk proses konstruksi abutmen dan piernya. Meski begitu ia mengakui jika sejak konstruksi awal jembatan rahabangga, pihaknya sudah menjadi suplayer pasir.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tenggara, Sandi saat dikonfirmasi awak media enggan memberikan keterangan. Meski aktif, Sandi tidak menjawab telephone awak media, upaya konfirmasi juga dilakukan melalui aplikasi WhatsApp, namun Sandi hanya membaca pesan tersebut dan tidak membalasnya.

Begitu pun pihak PT Brantas Abipraya, hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi yang dikeluarkan, pasalnya perusahaan plat merah ini tidak diberi izin berkomentar dari PPK BPJN Sultra.

Sementara itu, Direksi PU BPJN Sultra Ari membantah jika nilai bacaan mutu beton berdasarkan hasil hammer test sudah sesuai standar. Sebagai pengawas lapangan yang bertugas memastikan seluruh tahapan dilakukan dengan baik sesuai SOP, pihaknya memastikan jika setiap proses konstruksi telah dilakukan dengan benar.

“Berdasarkan hasil uji hammer tes semua masuk, penggunaan pasir buat campuran itu kami menggunakan pasir rawua untuk beton, sedangkan penggunaan pasir uepai itu hanya untuk pemasangan batu atau talud,” Ujar Ari

Untuk proses pencampuran material yang dilakukan tengah malam, Ari menyebut jika hal itu sengaja dilakukan untuk menghindari overhead terhadap material batu dikarenakan sifat dari batu yang menyimpan panas, sehingga dikhawatirkan bisa mengakibatkan campuran beton cepat mengering.

Sayangnya ia enggan  menunjukkan dokumen hasil uji mutu beton berdasarkan hammer test, serta berapa nilai hacaan yang dihasilkan. Alasannya jika dokumen tersebut tidak bisa ditunjukan kepada orang lain.

Untuk diketahui, proyek jembatan Rahabangga yang menghubungkan antara ibu kota Kabupaten Kabupaten Konawe dengan sejumlah daerah menelan anggaran sebesar Rp95,5 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pengerjaan proyek ini direncanakan selesai pada Maret 2021 mendatang.(Red/LS).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here