Make Image responsive

HPS di Sultra, FAO : Perbaiki Pola Makan Masyarakat Indonesia Untuk Atasi Masalah Gizi

0
82

Lintassultra.com | Konsel – Dalam beberapa dekade terakhir, akibat globalisasi, urbanisasi dan mayoritas pertumbuhan pendapatan, kebanyakan masyarakat dunia mengubah pola makan dan kebiasaan makannya. Masyarakat di dunia beralih dari pola makan musiman dari hasil tanam yang kaya akan serat menjadi pola makan yang kaya akan tepung olahan, gula, lemak, dan garam.

Meski Iebih dari 800 juta orang yang menderita kelaparan, lebih dari 790 juta orang sekarang mengalam obesitas karena kombinasi diet yang tidak sehat dan kurangnya olah raga, di semua kategori negara. Situasi ini mendorong FAO untuk merayakan Hari Pangan Sedunia tahun ini, dengan tema global “Tindakan kita adalah masa depan kita. Diet sehat untuk #Zero Hunger. ”

Make Image responsive

Pola makan secara umum di Indonesia tidak sama dengan di kebanyakan negara berpenghasilan menengah. Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi pada beras, namun konsumsi sayuran, buah, daging, dan lemaknya rendah. Faktanya, Indonesia memiliki porsi asupan energi tertinggi dari bijibijian khususnya beras di dunia. Porsi makanan bukan tepung di Indonesia adalah 30 persen, sedangkan rata-rata global adalah 50 persen.

Tingkat konsumsi buah dan sayuran kurang dari setengah asupan harian yang direkomendasikan secara nasional . Pola makan di indonesia umumnya rendah lemak dan minyak, sekitar 20 persen dari total kalori yang dikonsumsi dibandingkan dengan Eropa yang mencapai 30~50 persen.

Indonesia memiliki salah satu keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dan beragam tanaman pangan dan jenis hewan ada di Indonesia, namun pola makan di Indonesia bergantung pada sejumlah jenis tanaman dan hewan yang jumlahnya menurun.

”Di Indonesia harga makanan pokok cukup tinggi, dan kami melihat kenyataan bahwa harga-harga makanan di Indonesia merupakan salah satu termahal di Asia Tenggara. Faktanya, kelaparan dan obesitas hidup berdampingan di seluruh Indonesia, dan kadang-kadang bahkan berada di rumah tangga yang sama, ” tegas Stephen Rudgard, Perwakilan FAO dalam pidatonya hari ini di Pembukaan perayaan nasional Hari Pangan Sedunia 2019 di Desa Pudambu, Kecamatan Anggata, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi tenggara.

Prevalensi nasional jumlah stunting pada anak-anak di bawah usia 5 tahun sangat signitikan yakni lebih darl 30% dan prevalensi kondisi kurus untuk kelompok usia yang sama juga sangat signifikan pada 10%‘ Di slsl lain, 8% anak-anak di Indonesia mengalami obesitas. (Red/LS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here